Wednesday, July 28, 2021
Home International Chinese/ Mandarin Blak-Blakan Ahli Virologi China Jawab Spekulasi Virus Corona Dikembangkan di Lab

Blak-Blakan Ahli Virologi China Jawab Spekulasi Virus Corona Dikembangkan di Lab

Media Indo Pos,China – Bagi politikus dan ilmuwan Amerika, dia adalah kunci apakah benar virus di balik pandemi Covid-19 yang menghancurkan bocor dari laboratorium China. Bagi pemerintah dan masyarakat China, dia adalah pahlawan keberhasilan negara itu dalam mengendalikan epidemi dan menjadi korban teori konspirasi jahat.

Shi Zhengli, seorang ahli virologi ternama China, sekali lagi menjadi pusat narasi yang saling bertentangan terkait penelitiannya tentang virus corona di laboratorium di Wuhan, kota tempat pandemi pertama kali muncul.

Gagasan bahwa virus bocor dari laboratorium telah lama ditolak secara luas oleh para ilmuwan, dinilai tidak masuk akal dan ditepis karena hubungannya dengan mantan Presiden Donald Trump. Namun teori kebocoran virus dari laboratorium itu muncul kembali setelah pemerintahan Presiden Joe Biden memerintahkan penyelidikan baru dan menyerukan keterbukaan kepada para ilmuwan ternama.

Para ilmuwan umumnya sepakat masih belum ada bukti langsung untuk mendukung teori kebocoran laboratorium. Tetapi saat ini mereka mengatakan hipotesis itu ditolak terlalu cepat, tanpa penyelidikan menyeluruh, dan mereka menunjuk ke berbagai pertanyaan yang meresahkan.

Beberapa ilmuwan mengatakan Dr. Shi melakukan eksperimen berisiko dengan virus corona kelelawar di laboratorium yang tidak cukup aman. Yang lain menginginkan kejelasan tentang laporan, mengutip intelijen Amerika, yang menunjukkan bahwa ada infeksi awal Covid-19 di antara beberapa karyawan Institut Virologi Wuhan.

Dr Shi telah membantah tuduhan-tuduhan ini, dan sekarang dia membela reputasi laboratoriu dan negaranya. Dihubungi ke ponselnya dua pekan lalu, Shi mengatakan awalnya dia lebih memilih tidak berbicara langsung dengan wartawan karena kebijakan lembaganya. Tapi dia juga tidak bisa mengatasi rasa frustrasinya.

“Bagaimana bisa saya memberikan bukti atas sesuatu yang tidak ada buktinya?” ujarnya, suaranya meninggi, dalam wawancara yang tidak direncanakan itu.

“Saya tidak tahu bagaimana dunia sampai pada hal ini, secara terus menerus menyumpahi ilmuwan yang tidak bersalah,” tulisnya dalam sebuah SMS, dikutip dari The New York Times, Selasa (15/6).

Dalam wawancara yang langka melalui surel, dia membantah tuduhan itu dan menyebutnya tak berdasar, termasuk tuduhan beberapa koleganya sempat sakit sebelum wabah muncul.

Spekulasi itu mengarah pada satu pernyataan utama: Apakah laboratorium Dr Shi menyimpan sumber virus corona baru sebelum pandemi muncul? Jawaban Dr Shi adalah tidak.

Tapi penolakan China mengizinkan penyelidikan independen ke dalam labnya, atau berbagi data penelitiannya, membuat sulit untuk memvalidasi klaim Dr Shi dan hanya memicu kecurigaan terkait bagaimana pandemi bisa terjadi di kota yang sama yang menjadi lokasi lab tersebut.

Pemerintah China tidak memberikan kesan bahwa Dr Shi dicurigai. Meski mendapat sorotan internasional, dia tetap melanjutkan penelitiannya dan memberikan kuliah di China.

Perdebatan ini meluas ke bagaimana para ilmuwan mempelajari penyakit menular. Banyak ilmuwan mengatakan mereka ingin penyelidikan asal-usul virus melampaui politik, perbatasan, dan pencapaian ilmiah individu.

“Ini tidak ada hubungannya dengan kesalahan atau rasa bersalah,” jelas David Relman, ahli mikrobiologi di Universitas Stanford dan salah satu penulis surat baru-baru ini di jurnal Science, yang ditandatangani 18 ilmuwan, yang menyerukan penyelidikan transparan ke semua skenario yang layak, termasuk kebocoran laboratorium.

Surat itu mendesak laboratorium dan lembaga kesehatan untuk membuka catatan mereka kepada publik.

“Ini lebih besar dari ilmuwan atau lembaga mana pun atau negara mana pun — siapa pun di mana pun yang memiliki data semacam ini perlu meletakkannya di sana,” jelas Relman.

Pentingnya transparansi
Banyak ahli virologi berpendapat virus corona kemungkinan besar melompat dari hewan ke manusia di luar laboratorium. Namun karena tidak ada bukti langsung penularan dari alam ini, sejumlah ilmuwan dan politikus menyerukan penyelidikan penuh terhadap teori kebocoran laboratorium.

Pendukung penyelidikan laboratorium mengatakan, para peneliti di lembaga Dr Shi bisa saja mengumpulkan – atau tertular – virus corona baru dari alam liar, seperti di gua kelelawar. Atau para ilmuwan mungkin telah menciptakannya, secara tidak sengaja atau disengaja, virus kemudian bisa bocor dari laboratorium, mungkin dengan menginfeksi seorang pekerja.

Beijing sepakat mengizinkan tim ahli WHO mengunjungi China, tetapi membatasi akses mereka. Ketika tim WHO mengatakan dalam sebuah laporan pada Maret bahwa kebocoran laboratorium sangat tidak mungkin, kesimpulannya dipandang tergesa-gesa.

Bulan lalu, Presiden Biden memerintahkan badan intelijen untuk menyelidiki hal ini, termasuk teori laboratorium. Pada Minggu, para pemimpin G7 yang bertemu di Inggris mendesak China terlibat dalam penyelidikan baru tentang asal-usul virus corona. Biden mengatakan kepada wartawan, dia dan para pemimpin lainnya telah membahas akses ke laboratorium di China.

“Transparansi penting di semua bidang,” kata Biden.

‘Ilmuwan miliki tanah air’
Dr. Shi adalah simbol kemajuan ilmiah China, muncul di garda depan penelitian virus.

Dia memimpin ekspedisi ke gua-gua untuk mengumpulkan sampel dari kelelawar dan guano, untuk mempelajari bagaimana virus berpindah dari hewan ke manusia. Pada 2019, dia termasuk di antara 109 ilmuwan yang terpilih di American Academy of Microbiology atas kontribusinya di bidang ini.

“Dia ilmuwan yang luar biasa – sangat berhati-hati, dengan etos kerja yang ketat,” ujar Dr. Robert C. Gallo, direktur Institut Virologi Manusia di Fakultas Kedokteran Universitas Maryland.

Institut Virologi Wuhan mempekerjakan hampir 300 orang dan merupakan rumah bagi salah satu dari hanya dua laboratorium China dengan tingkat keamanan tertinggi. Dr. Shi memimpin penelitian penyakit menular dan selama bertahun-tahun, telah mengumpulkan lebih dari 10.000 sampel kelelawar dari seluruh China.

Di bawah pendekatan terpusat China untuk penelitian ilmiah, institut itu menjawab Partai Komunis, yang menginginkan para ilmuwan untuk melayani tujuan nasional.

“Ilmu pengetahuan tidak memiliki batas, tetapi para ilmuwan memiliki tanah air,” kata Presiden China, Xi Jinping, dalam pidatonya kepada para ilmuwan tahun lalu.

Namun Dr Shi bukan anggota Partai Komunis. Dia membangun karirnya di Institut Virologi Wuhan dimulai sebagai asisten peneliti pada tahun 1990 dan terus naik pangkat.

Perempuan 57 tahun ini memperoleh gelar Ph.D. dari Universitas Montpellier di Prancis pada tahun 2000 dan mulai meneliti kelelawar pada tahun 2004 setelah munculnya SARS, yang menewaskan lebih dari 700 orang di seluruh dunia. Pada 2011, Shi membuat terobosan ketika menemukan kelelawar di sebuah gua di barat daya China yang membawa virus corona yang mirip dengan virus penyebab SARS.

“Dalam semua pekerjaan yang kami lakukan, jika hanya sekali Anda dapat mencegah berjangkitnya suatu penyakit, maka apa yang telah kami lakukan akan sangat berarti,” katanya kepada CCTV, lembaga penyiaran negara China, pada tahun 2017.

Dalam beberapa tahun terakhir,Shi mulai bereksperimen pada virus corona kelelawar dengan memodifikasinya secara genetik untuk melihat bagaimana mereka berperilaku.

Pada 2017, Shi dan rekan-rekannya di laboratorium Wuhan menerbitkan sebuah makalah tentang percobaan di mana mereka menciptakan virus corona hibrida baru dengan mencampur dan mencocokkan bagian dari beberapa yang sudah ada – termasuk setidaknya satu yang hampir menular ke manusia – untuk meneliti kemampuan mereka menginfeksi dan bereplikasi dalam sel manusia.

Pendukung jenis penelitian ini mengatakan itu membantu masyarakat mempersiapkan diri untuk wabah di masa depan. Kritikus mengatakan risiko menciptakan patogen baru yang berbahaya mungkin lebih besar daripada manfaat potensial.

Muncul pertanyaan baru apakah dana pemerintah Amerika yang digunakan untuk pekerjaan Dr. Shi mendukung penelitian tersebut. Institut Wuhan menerima sekitar USD 600.000 uang hibah dari pemerintah Amerika Serikat, melalui lembaga nonprofit Amerika bernama EcoHealth Alliance. Institut Kesehatan Nasional mengatakan belum menyetujui pendanaan untuk organisasi nirlaba untuk melakukan penelitian manfaat-fungsi pada virus corona yang akan membuatnya lebih menular atau mematikan.

Dr. Shi dalam surelnya mengatakan eksperimennya berbeda dari penelitian manfaat-fungsi karena dia tidak bermaksud membuat virus lebih berbahaya, tetapi untuk memahami bagaimana virus itu dapat melompati spesies.

“Laboratorium saya tidak pernah melakukan atau bekerja sama dalam melakukan eksperimen GOF yang meningkatkan virulensi virus,” pungkasnya kepada awak media ini.(Red)


close






Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments