Friday, October 29, 2021
Home Berita Jatim Makam Peneleh, Pemakaman Zaman Kolonial yang Kini Jauh dari Kesan Angker

Makam Peneleh, Pemakaman Zaman Kolonial yang Kini Jauh dari Kesan Angker

Media Indo Pos,Surabaya – Makam Peneleh berada di Jalan Peneleh, Kecamatan Genteng, Surabaya. Makam ini sepi pengunjung selama pandemi COVID-19. Makam Peneleh merupakan tempat pemakaman di era kolonial Belanda. Makam ini memiliki nisan-nisan artistik dan unik. Makam yang memiliki luas 4,5 hektare ini, sebelum pandemi COVID-19, banyak dikunjungi wisatawan domestik maupun mancanegara.

Selain untuk berziarah dan mengenang sejarah. Makam Peneleh yang dibuka pada tahun 1857 tersebut juga menjadi spot menarik bagi para pencinta fotografi.

Saat dikunjungi awak media ini, pagar Makam Peneleh tergembok rapat. Pengunjung harus izin terlebih dahulu untuk masuk. Makam Peneleh dibuka setiap hari mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 16.00 WIB. Pengunjung wajib prokes dan jumlahnya dibatasi.

“Setiap hari dibuka jam kerja. Hari Minggu juga dibuka dengan wajib protokol kesehatan. Dan jumlahnya dibatasi,” kata Kepala Kebersihan Makam Peneleh, Agus Wahyudi kepada awak media ini, Minggu (19/9/2021).

Agus menambahkan, meski dibuka setiap hari, pengunjung tidak semuanya boleh masuk. Hanya untuk pelajar dan mahasiswa yang ingin menggali sejarah tentang Makam Peneleh. Sedangkan untuk keperluan foto prewedding masih belum diperkenankan.

“Kalau untuk anak sekolahan dibuka. Tapi untuk foto prewedding kita tunda dulu. Kalau untuk yang lain harus izin dahulu,” ujar Agus.

Sebelum pandemi COVID-19, wisatawan asal Belanda sering berkunjung ke Makam Peneleh. Mereka datang setiap tahun.

“Selama pandemi nggak ada. Sebelumnya ada setiap tahun, pada Bulan Desember dan Januari. Kalau (Komunitas Suster) setiap tiga bulan selalu datang tabur bunga,” ujar Agus.

Agus yang baru dinas di Makam Peneleh selama 1,5 tahun mengaku, tidak mengetahui secara pasti soal jumlah kuburan. “Menurut versi jumlahnya 11 ribu berapa gitu. Luasnya bisa dipastikan 4,5 hektare. Sesuai dengan peta pengelolaan di sini,” ungkap Agus.

Sebelum menjadi bersih dan dicat putih dan diberi pagar, Makam Peneleh sempat tidak terawat. “Ini mulai bersih ini mulai tahun 2006. Karena Bu Risma (mantan Wali Kota Surabaya) menaruh petugas outsourcing di sini. Yaitu orang empat untuk kebersihan dan orang dua untuk keamanan, shift malam,” lanjut Agus.

Dengan Makam Peneleh yang menjadi lebih terjaga dan terawat dan dilengkapi penerangan, kesan angker tidak begitu terasa. Meski banyak pohon-pohon besar di dalamnya.

“Iya gitu (tidak angker lagi) soalnya banyak lampu. Ini ada lebih dari tiga puluh enam titik,” ungkap Agus.

Agus tidak punya pengalaman yang menyeramkan di Makam Peneleh. Namun, ada beberapa rekan kerjanya yang mengaku pernah mengalami.

“Selama 1 tahun lima bulan di sini, kalau mau masuk sini itu nggak permisi, cengengesan, kadang kesurupan, setahu saya itu. Kalau teman-teman indigo ada yang tahu begitu (makhluk gaib) tapi kalau orang biasa nggak,” pungkas Agus.(Red)


close






Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments