Thursday, July 18, 2024
HomeHukum & KriminalPolres Metro Jakarta Pusat Tangkap 10 Mafia Tanah di Serang Banten, Salah...

Polres Metro Jakarta Pusat Tangkap 10 Mafia Tanah di Serang Banten, Salah Satunya Mantan Kades

Media Indo Pos,Jakarta – Polres Metro Jakarta Pusat menangkap 10 orang mafia tanah di Serang, Banten. Beberapa yang ditangkap adalah mantan kepala desa dan camat.

Mereka adalah Marhum sebagai kepala Desa Bendung, Rudiyan sebagai petugas ukur BPN Kota Serang, dan Iwan Darmawan sebagai PPATS Camat Kasemen.

Kemudian ada juga Sobri sebagai staf PPAT kecamatan Kasemen, Saikhu Amrullah staff desa yang bertugas mengetik akta. Juga Juanda, Husni, Sahid, Abdul Khalik dan Halwani sebagai staf desa Bendung.

“Tersangka ini (Marhum) adalah eks Kades (Kepala Desa), dan eks Camat dibantu dengan staf-staf nya, berikut dengan staf dari BPN,” kata Wakapolres Metro Jakpus, AKBP Setyo Koes Heriyanto dalam jumpa pers di Polres Metro Jakarta Pusat, Rabu (29/12/2021).

Lokasi tanah yang diperjualbelikan secara ilegal berada di Desa Bendung, Kecamatan Kasemen, Kota Serang. Kasus bermula ketika korban bernama Hendra Hidajat berniat membeli tanah di Desa Bendung untuk dijadikan perumahan.

Kemudian, salah satu tersangka Marhum yang menjabat sebagai ketua desa mendatangi kantor korban di Komplek Perkantoran Majapahit, Jakarta Pusat. Marhum, kata Setyo, memerintahkan anak buahnya untuk membuat AJB dengan mengutip data, padahal tanahnya tidak ada.

“Karena tersangka tidak memiliki tanah yang akan dijual kepada pelapor, selanjutnya tersangka memerintahkan staf desa Bendung untuk membuat AJB dengan mengutip data-data yang ada di DHKP PBB,” kata Setyo.

Menurut Setyo, para tersangka sudah menjadi mafia tanah sejak tahun 2012 silam. Marhum sendiri sudah menjabat sebagai kades sejak tahun 1998 sampai dengan 2017.

Modus Pemalsuan Akta Tanah
Berdasarkan hasil penyelidikan, Setyo mengatakan modus mereka dengan memalsukan akta tanah. Setyo menyebut para pelaku sudah membuat akta jual beli (AJB) sebanyak 36 buah dengan total tanah seluas 11 ribu hektar.

“Tersangka ini menjanjikan atau membuat Akta Jual Beli sebanyak 36 Akta Jual Beli. Dengan yang sudah diukur oleh pejabat, mengukur dari BPN seluas 11 ribu hektar,” jelasnya.

Setyo mengungkapkan aksi penipuan mereka diketahui ketika korban curiga pada tingkah laku mereka. Sebab, mereka setiap kali korban meminta menunjukkan lokasi tanah, mereka selalu menolak.

“Ternyata tanah yang terdapat dalam sertifikat itu adalah milik warga desa,” katanya.

Atas perbuatan ke-10 tersangka itu, korban mengalami kerugian hingga Rp 670 juta. Para tersangka dijerat pasal 378 KUHP, 266 KUHP, 264 KUHP, 263 KUHP, Jo 56 KUHP dengan ancaman maksimal 8 tahun penjara.(Red)

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments