Tuesday, July 16, 2024
HomeHukum & KriminalKekerasan Anak di Jatim Meningkat 100 Persen

Kekerasan Anak di Jatim Meningkat 100 Persen

Media Indo Pos,Jawa Timur – Berdasarkan data yang dihimpun oleh Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Timur berkaitan dengan terjadinya tindak kekerasan terhadap anak di Jatim, terjadi peningkatan sebesar 100%.

“Kami membaginya menjadi dua data masukan, yang pertama yang melapor langsung dan yang kedua yang dihimpun dari media massa di Jatim, baik yang cetak maupun yang online. Terjadi peningkatan sebesar 100% kekerasan terhadap anak secara keseluruhan di Jatim,” jelas Isa Anshori, Bidang Data, Informasi dan Litbang LPA Jatim, kepada Basra, Kamis (30/12).
Lebih lanjut dikatakan Isa, tahun 2020 kekerasan terhadap anak di Jatim berjumlah 186, pada tahun 2021 kekerasan terhadap anak berjumlah 368. Pada tahun 2020 jumlah yang melapor langsung sebanyak 46, dan data yang dihimpun dari berita – berita di media Jawa Timur sebanyak 140.

Sedangkan pada tahun 2021 yang melapor langsung sebanyak 137 dan yang dihimpun dari berbagai media di Jawa Timur, baik cetak maupun online sebanyak 231, sehingga total kasus sebanyak 368. Ini berarti terjadi peningkatan yang sangat tajam (100 %) kekerasan terhadap anak di Jawa Timur.

“Dari tinjauan pelaku dan korban, pada tahun 2020 yang terkategori ‘pelaku’ meski mereka juga adalah korban sebanyak 261 anak dan sebagai korban langsung sebanyak 165 anak. Di Tahun 2021 jumlah korban ‘pelaku’ sebanyak 177 dan sebagai korban langsung 407. Hal ini bisa dimaknai bahwa satu orang pelaku bisa melakukan kejahatan berulang-ulang,” jelas Isa.

Ditinjau dari jenis kekerasan, lanjut Isa, tahun 2020 kekerasan seksual, yang melapor langsung ke LPA sebanyak 17 dan yang dihimpun dari berbagai media Jawa Timur baik cetak maupun online sebanyak 63.

Pada tahun 2021 jumlah kekerasan seksual sebanyak 101 dengan rincian yang melapor langsung sebanyak 17 dan yang dihimpun dari media sebanyak 84, total sebanyak 101 kasus kekerasan seksual.

“Penelantaran pendidikan menjadi kasus yang cukup besar di tahun 2021, yaitu berjumlah 73, sementara di tahun 2020 berjumlah 29 kasus,” imbuhnya.

Kasus lain yang juga patut mendapat perhatian adalah kasus anak – anak yang berhadapan dengan hukum (ABH). Pada tahun 2020 kasus ABH berjumlah 33 dan pada tahun 2021 berjumlah 55. Kasus lain adalah kekerasan fisik, tahun 2021 berjumlah 53 Sedang pada tahun 2020 berjumlah 29.

Data 10 kabupaten/kota di Jawa Timur yang banyak Terjadi Kekerasan terhadap anak, yakni Surabaya (47 kasus), Trenggalek (38), Gresik (23), Sidoarjo (13), Batu (12), Tulungagung (11), Lumajang (11), Malang (9), Mojokerto (8), dan Sumenep (6).

Dari hasil catatan di atas dapat disimpulkan bahwa dibanding tahun 2020, tahun 2021 terjadi peningkatan kekerasan terhadap anak di Jatim sekitar 100%.

Selain itu yang menjadi catatan adalah jumlah kekerasan seksual juga terjadi peningkatan yang sangat signifikan (66%), tahun 2020 sebanyak 66, tahun 2021 sebanyak 101.

“Yang juga perlu diperhatikan adalah rumah dan sekolah dan jalan sebagai tempat antara rumah dan sekolah ternyata masih menjadi tempat yang tidak aman bagi anak. Apalagi selama pandemi COVID-19 dan pasca penurunan level PPKM tahun 2021 sejak Maret sampai Desember 2021.

Dalam data LPA pasca penurunan level terjadi peningkatan laporan jumlah. Kemudahan akses dan mobilitas warga yang sudah mulai berjalan mejadikan mereka bisa melakukan laporan langsung serta dampak dari mobilitas masyarakat juga rentan terjadinya kekerasan,” papar Isa.

Rumah, sekolah, dan jalanan menjadi tempat yang rentan dan tidak nyaman bagi anak – anak, karena rentan terjadinya kekerasan.

Penguatan keluarga dan pengasuhan terhadap anak sangat diperlukan, agar anak – anak mendapatkan pengasuhan yang baik tanpa kekerasan. Program pemerintah yang mengadakan program konseling pranikah menjadi sebuah keniscayaan agar pengasuhan terhadap anak menjadi baik dan rumah menjadi tempat yang aman bagi tumbuh kembang anak.

Selain itu mendorong sekolah agar menjadi sekolah yang ramah terhadap anak, hal ini merupakan sebuah keharusan bagi pemerintah, sehingga sekolah bisa menjadi rumah kedua anak untuk tumbuh kembang dengan baik.

Program penguatan guru dalam pembelajaran yang memahami keragaman dan kebutuhan anak perlu digalakkan oleh pemerintah melalui Dinas Pendidikan Jatim maupun kabupaten/ kota.

“Hal lain yang patut diperhatikan adalah lingkungan antara rumah dan sekolah, pemerintah diharapkan melalui aparaturnya seperti kepolisian, Satpol PP ataupun Linmas, bisa ditempatkan di daerah-daerah yang sering menjadi lalu lintas anak, sehingga dapat mencegah terjadinya kekerasan terhadap anak,” tukas Isa.

Selain agar perlindungan anak dan pencegahan serta penanganannya bisa melibatkan partisipasi publik, maka LPA Jatim mendorong kepada pemerintah kabupaten/kota agar hendaknya bisa menambah satu bidang layanan perlindungan anak ditingkat rukun tetangga (RT) dengan mengeluarkan kebijakan semisal surat edaran wali kota atau bupati kepada para pengurus RT di setiap kampung agar menambah bidang layanan perlindungan anak ditingkat RT. LPA menyebutnya sebagai SPARTA sebagai akronim dari sistim perlindungan anak di tingkat Rukun Tetangga (RT).

“Akhirnya yang menjadi catatan penting adalah kekerasan seksual masih menjadi ancaman di Jawa Timur ini serta rumah dan sekolah masih belum menjadi tempat yang aman bagi anak-anak,” jelasnya pada awak media mengakhiri perbincangan.(Red)

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments