Friday, April 12, 2024
HomeBerita NasionalNgegas Febri Diansyah Vs Fahri Hamzah

Ngegas Febri Diansyah Vs Fahri Hamzah

Media Indo Pos,Jakarta – Mantan juru bicara KPK, Febri Diansyah terlibat debat dengan Ketum Partai Gelora, Fahri Hamzah di Twitter. Keduanya berdebat mengenai peran KPK terkait pengusutan kasus ekspor bahan baku minyak goreng.

Perdebatan itu mengenai gebrakan Kejagung yang menetapkan Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan (Dirjen Daglu Kemendag) Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka kasus dugaan korupsi pemberian fasilitas ekspor crude palm oil atau CPO atau minyak goreng. Dia dijerat bersama dengan 3 orang lain dari pihak swasta.

Kasus ini yang membuat minyak goreng sempat langka dan mahal beberapa waktu lalu. Jaksa Agung ST Burhanuddin mengumumkan langsung penetapan para tersangka itu.

“Perbuatan para tersangka tersebut mengakibatkan timbulnya kerugian perekonomian negara atau mengakibatkan kemahalan serta kelangkaan minyak goreng sehingga terjadi penurunan konsumsi rumah tangga dan industri kecil yang menggunakan minyak goreng dan menyulitkan kehidupan rakyat,” kata Burhanuddin di kantornya, Jalan Sultan Hasanuddin, Jakarta Selatan, Selasa (19/4/2022).

Adapun 3 tersangka dari pihak swasta adalah:
– Master Parulian Tumanggor selaku Komisaris PT Wilmar Nabati Indonesia
– Stanley MA selaku Senior Manager Corporate Affair Permata Hijau Grup (PHG)
– Picare Tagore Sitanggang selaku General Manager di Bagian General Affair PT Musim Mas

Debat di Twitter
Perdebatan keduanya diawali cuitan Febri Diansyah lewat akun Twitternya @febridiansyah yang menyoroti KPK. Dia mengkritik KPK yang justru sibuk dengan dugaan pelanggaran kode etik pimpinan KPK di saat Kejaksaan Agung mengusut penyidikan kasus mafia minyak goreng.

“Ketika KPK jadi sorotan tentang dugaan penerimaan gratifikasi pimpinan & skandal internal, Kejaksaan Agung mengumumkan penyidikan korupsi mafia minyak goreng,” kata Febri lewat cuitan di akunnya seperti dlansir media ini, Rabu (20/4/2022).

Bukan tanpa alasan, Febri menyoroti kabar tentang KPK akhir-akhir ini yang malah disibukkan dengan kasus Lili Pintauli Siregar, yang diduga menerima fasilitas akomodasi hingga tiket menonton MotoGP Mandalika beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Kejagung bikin gebrakan dengan menjerat Dirjen Daglu Kemendag Indrasari Wisnu Wardhana sebagai tersangka.

“Apakah KPK benar-benar akan jadi masa lalu, dilupakan dan ditinggalkan? Pertanyaan ini hanya bisa dijawab dengan kinerja, bukan gimik,” kata dia.

Kemudian, pada cuitan selanjutnya Febri Diansyah mencolek Fahri Hamzah yang disebutnya kerap memuji KPK era Ketua KPK Firli Bahuri. Dia menyinggung logika jika KPK tak menangkap koruptor, berarti korupsi sudah turun.

“Tapi @Fahrihamzah tampaknya lebih sering memuji KPK yang sekarang. Mungkin juga dianggap lebih baik setelah 2 tahun lebih di bawah kepemimpinan periode ini. Kalau KPK nggak nangkep koruptor, berarti korupsi sudah menurun. Apa mungkin begitu logikanya?” kata Febri Diansyah sembari mencolek Fahri Hamzah dengan emoticon senyum.

Fahri Hamzah Menjawab
Fahri lantas menjawab Febridiansyah lewat cuitannya. Apa kata Fahri Hamzah?

“Dulu yang kerja cuma Ente, bro… Kejaksaan tidur… Polisi tidur… Sistem tidak bekerja,” kata Fahri Hamzah.

Dimintai konfirmasi, Fahri Hamzah menjelaskan lebih lanjut perihal cuitannya kepada Febri Diansyah. Dia memuji KPK saat ini lantaran, katanya, pemberantasan korupsi tidak maksimal lantaran KPK berjalan sendiri mencari sensasi pada masa lalu.

“Teman-teman itu sering lupa bahwa pada masa lalu itu fungsi sistem pemberantasan korupsinya tidak maksimal, karena KPK jalan sendiri mengebut sensasi dan kerjaan-kerjaan kecil, nah sekarang sistem pemberantasan korupsinya membaik yang ditandai oleh adanya koordinasi untuk menangani perkara-perkara besar, jadi ini adalah efek dari perbaikan sistem yang harus disyukuri,” ujar Fahri.

Meski begitu, Fahri tidak memungkiri KPK saat ini juga harus dikritik karena terlalu menyisir kasus di daerah. Sementara Kejagung yang justru menyisir kasus-kasus besar.

“Memang kita kritik KPK karena ada gejala menyisir daerah sementara kejaksaan mencoba menyisir kasus-kasus besar tetapi kalau itu kita lihat sebagai orkestrasi, maka itu sebuah perbaikan,” ucapnya.

Dia memastikan siapa pun akan kecewa jika melihat pemberantasan korupsi sebagai kerja satu lembaga. “Kalau terbiasa melihat pemberantasan korupsi sebagai kerja satu lembaga saja ya kita akan kecewa dengan keadaan sekarang,” tandasnya pada awak media.

KPK Buka Suara
KPK merespons sindiran Febri Diansyah soal perkara dugaan korupsi ekspor minyak goreng di Kementerian Perdagangan yang diungkap oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) RI. Lalu, bagaimana respons KPK soal sindiran Febri?

“Kami menyampaikan apresiasi kepada Kejaksaan Agung yang telah melakukan penanganan perkara dugaan tindak pidana korupsi terkait ekspor minyak goreng, sehingga telah menetapkan pihak-pihak tertentu sebagai tersangka.

Terlebih, minyak goreng merupakan salah satu komoditas yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas, yang sempat terjadi kelangkaan pada beberapa waktu yang lalu,” kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri.

Menurut Ali, langkah Kejagung membongkar kasus tersebut justru menjadi bentuk optimisme pemberantasan korupsi demi kesejahteraan masyarakat. Dia menilai upaya pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab bersama.

“Capaian kinerja tersebut menjadi penguat optimisme kita bahwa pemberantasan korupsi memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

Sekaligus menjadi pengingat bahwa upaya pemberantasan korupsi adalah tanggung jawab kita bersama.

Baik melalui upaya-upaya penegakan hukum, pencegahan dan perbaikan sistem tata kelola, maupun edukasi antikorupsi bagi masyarakat,” papar Ali.

Lebih lanjut, Ali menilai ada dua faktor yang mempengaruhi pengambilan kebijakan ekspor dan impor. Di sana, KPK menemukan ada penggunaan data yang kurang akurat sehingga berpotensi terjadinya praktik korupsi.

“Stranas PK berpandangan bahwa stabilitas harga dan ketersediaan barang di pasar domestik, menjadi dua kondisi utama yang menjadi basis pengambilan kebijakan ekspor atau impor. Namun kedua hal ini tidak selalu berjalan mulus,” tutur Ali.

“Kami menemukan penggunaan data yang kurang akurat, tidak terintegrasi dan prosedur perizinan yang kurang transparan, telah membuka celah terjadinya praktik korupsi,” tegasnya mengakhiri perbincangan bersama awak media.(Red)

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments