Friday, March 24, 2023
Home Bisnis Finance Luhut Optimis Indonesia Jadi Produsen Baterai Lithium Terbesar di Dunia

Luhut Optimis Indonesia Jadi Produsen Baterai Lithium Terbesar di Dunia

Media Indo Pos,Jakarta – Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves), Luhut Binsar Pandjaitan optimis, Indonesia bisa menjadi produsen baterai lithium terbesar ketiga di dunia.

Hal tersebut dia sampaikan kepada para pengusaha top yang hadir di acara DBS Asian Insight Forum, Jakarta, baru-baru ini.

“Di depan para top business leaders Indonesia dan juga Asia yang hadir, saya sampaikan bahwa pada tahun 2025, kami akan mampu memproduksi baterai lithium sendiri. Sehingga kita akan menjadi produsen baterai lithium terbesar ketiga di dunia pada tahun 2027 atau 2028 nanti. ‘So, don’t look down on Indonesia’,” kata Luhut dikutip dari Instagramnya, Sabtu (18/3/2023).

Kepada pebisnis yang hadir, mantan Menko Polhukam ini menunjukkan data bahwa ada investasi senilai 31,9 miliar dollar AS untuk pengembangan rantai pasok industri baterai di Indonesia hingga tahun 2026.

Luhut bilang, tahun lalu, Indonesia menarik investasi asing langsung sebesar 45,6 miliar dollar AS.

Menurutnya, itu merupakan rekor tertinggi baru sejak tahun 2000. Ditambah lagi nilai ekspor industri nikel Indonesia mencapai 33,8 miliar dollar AS pada tahun 2022, di mana 14,3 miliar dollar AS dihasilkan dari ekspor besi dan baja.

“Data tersebut juga saya sampaikan kepada IMF yang mengunjungi kantor saya beberapa hari yang lalu sembari berkata bahwa jika dulu semua bahan mentah kita ekspor secara cuma-cuma, sekarang cukup sudah,” ujar Luhut.

Hilirisasi
Saat ini, lanjut Luhut, Indonesia sudah bisa mengekspor besi dan baja, bukan bijih nikel lagi sejak Presiden Joko Widodo (Jokowi) melarang ekspor bijih nikel.

Begitu pula dengan timah, bauksit, tembaga, dan lainnya akan dilakukan hal yang sama.

“Perubahan besar ini harus dilihat oleh negara-negara maju. This is their problem. Selalu melihat negara berkembang seperti Indonesia adalah negara yang mereka tahu dua puluh atau lima belas tahun yang lalu. Dengan memberlakukan larangan ekspor nikel, kita mempunyai kekuatan untuk menghasilkan energi hijau yang sudah kita cita-citakan sejak lama,” ungkapnya.

Kendati ada kebijakan tersebut, pemerintah tetap membuka kerja sama dengan negara lain. Asalkan, mengikuti aturan yang diminta oleh Indonesia.

“Kita tidak sedang melawan siapapun, justru kita bersahabat dengan siapa saja. Indonesia terbuka dan mempersilakan negara-negara lain untuk berinvestasi serta membangun industri pengolahan pertambangan di dalam negeri, dengan catatan bahwa kami juga punya aturan main atau regulasi yang harus mereka penuhi. Menjadi negara maju adalah hak setiap negara, kewajiban kita adalah memperjuangkannya,” pungkas Luhut.

Sebelumnya, Menteri Investasi Bahlil Lahadalia mengatakan produksi baterai mobil listrik di Indonesia akan dimulai pada awal 2024.

Hal itu ia sampaikan usai rapat Rapat Terbatas (Ratas) mengenai Pengembangan Ekosistem Kendaraan Listrik, di Istana Merdeka, Jakarta, Jumat (13/1/2023).

“Direncanakan tahun 2024 produksi (baterai mobil listrik) kita sudah mulai berjalan di awal, di semester pertama 2024 yang dibangun oleh LG di Karawang. Yang kedua, ekosistem dari hulu ke hilir antara CATL dan LG juga tahun ini sudah mulai konstruksi,” kata Bahlil dalam siaran pers Sekretariat Kabinet.

Bahlil menyampaikan, pengembangan ekosistem kendaraan listrik, termasuk baterai, diperlukan untuk menjaga agar pasar besar yang dimiliki oleh Indonesia tidak dipenetrasi oleh produk-produk dari luar negeri. (Red)


close






Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments