Tuesday, May 21, 2024
HomeBerita NasionalMenparekraf Akan Buat Sertifikasi Promotor Imbas Kisruh Coldplay dan BMTH

Menparekraf Akan Buat Sertifikasi Promotor Imbas Kisruh Coldplay dan BMTH

Media Indo Pos,Jakarta – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Sandiaga Uno menyoroti penyelenggaraan konser Coldplay dan Bring Me The Horizon di Jakarta beberapa waktu lalu yang meninggalkan catatan penting. Beberapa masalah yang disoroti penonton dari dua konser tersebut membuat Sandi menjanjikan sertifikasi untuk promotor yang hendak menyelenggarakan pertunjukan musik di berbagai skala penonton.

“Ada tentunya beberapa catatan untuk perbaikan, tapi kami ingin juga konser ke depan akan semakin baik melalui perizinan event dan sertifikasi promotor berlandaskan digitalisasi,” kata Sandiaga Uno dalam Weekly Brief Menparekraf yang tayang di kanal YouTube Kemenparekraf, Senin (20/11) malam.

Sandiaga turut menyinggung konser Bring Me the Horizon yang dihentikan pada hari pertama hingga berujung pembatalan konser di hari kedua. Oleh sebab itu, ia menjanjikan Kemenparekraf akan memastikan promotor konser musik untuk memenuhi persyaratan tersebut.

Tak hanya itu, Sandiaga Uno juga merencanakan seluruh proses perizinan event dapat terintegrasi melalui satu wadah yang dapat diakses secara digital. “Dan kami akan pastikan para promotor, karena ada beberapa kejadian seperti BMTH dan lainnya,” tuturnya.

“Ini akan kami fasilitasi dengan pengkajian sertifikasi dari EO dan promotor, dan tentunya proses digitalisasi perizinan event akan terintegrasi,” Sandiaga menegaskan.

Meski konser Coldplay menuai beberapa catatan, Sandiaga Uno menilai secara keseluruhan penyelenggaraan konser pertama band asal Inggris di Jakarta itu sukses digelar. “Alhamdulillah, Coldplay berlangsung sukses secara umum,” ujar Sandiaga.

Tak hanya itu, konser yang jadi bagian tur dunia Music of the Spheres itu juga dianggap sebagai salah satu pertunjukan musik skala besar yang sukses diselenggarakan di Indonesia. Terlebih, Sandiaga melihat dampak ekonomi yang dihasilkan melalui besaran angka wisatawan lokal yang mendominasi di helatan tersebut.

“Kami optimis itu melebihi target. Karena ternyata jumlah wisatawannya meningkat dari pergerakan wisatawan dari nusantara. Secara umum kami puas dengan penyelenggaraannya, dan akan kami akan pantau terus karena ini bisa menjadi barometer untuk penyelenggaraan ke depannya,” ungkap Sandiaga.

Kasus berbagai keluhan dan suara sumbang soal pelaksanaan konser musisi mancanegara memunculkan pertanyaan kembali, “apakah Indonesia sudah memiliki budaya konser yang baik?”

Akademisi manajemen pertunjukan musik dari Universitas Pelita Harapan (UPH) Yosia Revie Pongoh menilai bahwa budaya konser secara positif belum terbangun di Indonesia karena kurang perencanaan dan pengelolaan yang detail.

Suara sumbang dari stadion bukan hanya terjadi di konser Coldplay, tetapi juga konser Bring Me The Horizon (BMTH) yang digelar hanya beberapa hari sebelum Chris Martin dan kawan-kawan masuk Stadion Utama Gelora Bung Karno.

Dalam kasus konser BMTH, Oli Sykes Cs bahkan ogah melanjutkan set dengan alasan keamanan panggung di Beach City International Stadium Ancol. Keputusan itu membuat penonton kecewa yang berbuah aksi vandal, mulai dari naik panggung hingga menjarah sejumlah properti.

Konser hari kedua BMTH dibatalkan karena kekacauan tersebut dan promotor mesti mengembalikan seluruh uang penonton yang sudah membeli tiket. Ketika gagasan soal sertifikasi promotor untuk memastikan adanya kualitas yang sama antar pelaksana konser diutarakan, Revie menilai bahwa ide itu memang sudah mulai bermunculan.

“Ada keresahan yang timbul. Apakah ini perlu dimasukkan ke ranah legal? Nah ini bahkan penelitian terdahulunya juga belum ada. Di luar [negeri] itu harusnya ada klasifikasi promotor bergantung skala penonton, kalau tidak sanggup sesuai porsi itu kan fatal. Pun promotor harus bisa membuktikan kemampuan mereka ke pihak regulator [pemerintah],” kata Revie.

Bukan hanya soal keabsahan identitas promotor, aturan itu juga menyebut hingga ketentuan pengembalian dana ke penonton. Meski begitu, belum ada ketentuan lebih rinci mengenai pembagian promotor berdasarkan kapasitasnya.

“Harusnya standarisasi itu memang diatur, termasuk rancangan keuangan yang dimiliki oleh tiap-tiap promotor. Enggak bisa yang abal-abal istilahnya. Namun balik lagi, selalu membutuhkan kerja sama dari setiap elemen yang terlibat. Peran asosiasi juga harusnya bisa membangun dan menjembatani komunikasi dengan pemerintah,” kata Revie.

Isu komunikasi antarpihak dinilai sebagai masalah lawas. Gagasan merapikan koordinasi sudah pernah disebut Dewi Gontha selaku Ketua Bidang Program dan Investasi Asosiasi Promotor Musik Indonesia (APMI) pada 2022. Dewi kala itu menyatakan asosiasi akan menciptakan sebuah standar yang dapat digunakan oleh promotor musik dalam setiap penyelenggaraan.

Mereka akan menyusun tahapan pengurusan perizinan untuk menyelenggarakan pertunjukan musik hingga memantau prosedur operasi standar itu hingga diimplementasikan dengan baik. Namun hingga kini, belum ada perkembangan berarti terkait rencana itu.

Pada September 2023, APMI mengumumkan perbaikan manajemen konser baru berupa uji coba digitalisasi perizinan event musik dengan tujuan menyederhanakan perizinan penyelenggaraan yang selama ini jadi keluhan promotor.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments