Friday, April 19, 2024
HomeBerita NasionalAda Bullying di SMA Tangerang Selatan, KPAI: Putus Mata Rantai Ultrasenioritas!

Ada Bullying di SMA Tangerang Selatan, KPAI: Putus Mata Rantai Ultrasenioritas!

Media Indo Pos,Jakarta – Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengirimkan dua komisioner untuk ikut memantau kasus bullying dengan kekerasan yang dialami siswa SMA di Tangerang Selatan. KPAI meminta kasus tersebut diungkap dan diusut tuntas.

“Kami akan menurunkan dua komisioner ke Tangsel, ke lokasi, termasuk ke sekolah. Karena ini kami kaget juga, ternyata di sekolah yang mungkin kita anggap dengan segala fasilitas yang baik terjadi hal-hal seperti ini,” kata Ketua KPAI Ai Maryati saat dihubungi, Senin (19/2/2024).

“Ini informasi yang akan kami tindak lanjuti, tetapi mungkin komentar saya tentu perilaku bully ini harus diungkap dan diusut tuntas,” lanjutnya.

Ai bicara soal adanya relasi kuasa antara senior dan junior dari kasus tersebut. Dia berharap ada kerja sama yang baik dengan para guru sehingga kasus tersebut bisa terungkap.

“Karena itu melibatkan teman sebaya, apalagi kalau terjadi relasi yang bersifat dari kakak kelas kepada adik kelas sehingga tingkat kuasa relasinya itu bisa berkali lipat. Ini yang dimohonkan kepada semua dewan guru bekerja sama untuk mengungkap ini,” ujarnya.

Menurut Ai, jika kasus itu tidak diselesaikan, akan terus menimbulkan korban. Dia menyebutkan relasi kuasa menjadi faktor utama adanya bully dengan kekerasan.

“Kalau tidak diputus mata rantainya, maka ini akan terus berkelanjutan, akan ada korban-korban berikutnya. Kita sudah banyak kok belajar dari peristiwa seperti ini, ini disebut ultrasenioritas, karena sebetulnya senioritas positif kelas dua kepada kelas satu memberi dukungan kegiatan, membantu, dan sebagainya kan positif saja,” ucapnya.

“Walaupun ini (kekerasan) dilakukan secara sukarela dan sebagainya, tetap ada risiko secara hukum. Karena tadi di awal tetap ada relasi kuasa yang dilihat. Faktor utama terjadi kekerasan ini. Kalau dia sudah lebih dulu menjadi ketua gengnya walaupun sesama bukan senior itu tetap juga dipandang sebagai relasi kuasa karena rasa senior di dalam geng itu,” sambungnya.

Diberitakan sebelumnya, kasus perundungan siswa SMA di Serpong, Tangerang Selatan (Tangsel), diduga dilakukan oleh seniornya yang merupakan geng sekolah, masih diselidiki. Polisi mengatakan kondisi korban mengalami sejumlah luka akibat perundungan.

“Betul ada luka, untuk detail lukanya menunggu hasil dari dokter,” kata Kasat Reskrim Polres Metro Tangerang Selatan AKP Alvino Cahyadi saat dihubungi, Senin (19/2/2024).

Alvino mengatakan saat ini korban masih menjalani perawatan di rumah sakit. Pihak kepolisian juga masih mendalami kasus tersebut. “Sudah kita tindak lanjuti, penyidik mendatangi rumah sakit untuk minta keterangan klarifikasi kepada korban serta cek TKP. Proses hukum sedang berjalan,” ujarnya.

Viral Korban Diikat-Dipukuli Pakai Balok
Peristiwa itu viral di media sosial, seperti dilihat, Senin (19/2/2024). Peristiwa itu disebut terjadi di warung di belakang salah satu sekolah swasta.

Menurut kabar, korban merupakan calon anggota geng itu. Para calon anggota geng disebut harus melakukan beberapa hal untuk bisa bergabung, termasuk membelikan makanan hingga hal lain.

Kekerasan fisik kemudian diduga terjadi. Saat itu, korban disebut diikat di tiang hingga dipukuli menggunakan balok kayu. Beberapa siswa diduga ikut merekam aksi tersebut dan menertawakannya. Beberapa pelaku yang diduga terlibat sudah dihukum pihak sekolah.

Kasie Humas Polres Tangsel Iptu Wendy Afrianto mengatakan pihak kepolisian sudah menindaklanjuti kasus tersebut. Korban juga sudah membuat laporan ke Polres Tangsel.

“LP sudah masuk ke Unit PPA Polres Tangsel,” kata Wendy saat dimintai konfirmasi.

Binus School Serpong Buka Suara
Binus School Serpong menyatakan pihak sekolah tengah menyelidiki kasus perundungan terhadap siswanya yang diduga dilakukan oleh seniornya yang merupakan geng sekolah. Pihak sekolah pun tidak akan memberikan toleransi kepada para pelaku.

“Binus School Serpong tidak akan menoleransi tindakan kekerasan dalam bentuk apa pun,” kata Corporate PR Binus University Haris Suhendra dalam keterangannya, Senin (19/2/2024).

Haris mengatakan pihak sekolah memberikan atensi terkait kasus tersebut. Sekolah, lanjut Haris, akan memberikan dukungan kepada korban dan memastikan kejadian serupa tidak terulang.

“Kami sedang menyelidiki peristiwa ini secara serius dan cepat. Tujuan kami adalah memberikan dukungan kepada korban, menegakkan aturan sekolah, dan mencegah hal serupa tidak terjadi lagi,” kata dia.

“Kami semua bertanggung jawab untuk mencegah kekerasan, kami berupaya menciptakan lingkungan sekolah yang aman dan saling menghargai sebagai prioritas kami,” imbuhnya.

Haris menambahkan, pihak sekolah juga sudah memanggil siswa yang diduga terlibat dalam kasus itu. Dia menyebut sanksi yang akan diberikan nantinya mengikuti ketentuan yang berlaku.

“Sejauh ini dalam penanganan sekolah dan menjadi prioritas untuk ditindaklanjuti, sejauh ini kita sudah memanggil yang terlibat dan masih dalam proses. (Sanksi) mengikuti aturan sekolah yang sudah ada,” tuturnya.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments