Friday, April 19, 2024
HomeHukum & Kriminal7 Fakta Kerja Sama Polri dan FBI Bongkar Video Porno Anak

7 Fakta Kerja Sama Polri dan FBI Bongkar Video Porno Anak

Media Indo Pos,Jakarta – Ribuan video dan foto porno anak di bawah umur terungkap polisi. Konten porno anak ini diperjualbelikan oleh jaringan lintas negara melalui aplikasi Telegram.

Terungkapnya kasus konten porno anak ini atas kerja sama Kepolisian Republik Indonesia (Polri) dan Federal Bureau of Investigation (FBI). Dari ribuan konten porno anak yang diungkap oleh Violence Crime Against Children Task Force (VCACTF) yang merupakan satgas khusus di bawah naungan FBI yang berkonsentrasi dalam melindungi anak-anak dari segala bentuk kekerasan salah satunya kekerasan seksual.

FBI menemukan adanya ribuan konten porno anak, yang di antaranya teridentifikasi merupakan anak-anak berkewarganegaraan Indonesia (WNI). FBI kemudian meneruskan informasi tersebut kepada Polri.

“FBI kemudian memberikan informasi kepada Bapak Kapolresta (Kombes Roberto Pasaribu) tentang adanya video atau konten pornografi yang diduga orang-orang yang terlibat di dalam video itu adalah anak-anak Indonesia,” kata Wakapolresta Bandara Soekarno-Hatta AKBP Ronald Fredi Christian Sipayung dalam jumpa pers di kantornya, Sabtu (24/2/2024).

Polresta Bandara Soekarno-Hatta kemudian menindaklanjuti informasi FBI tersebut dengan membuat laporan polisi model A pada Agustus 2023. Dari hasil penelusuran Satreskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta ini polisi berhasil menangkap lima orang tersangka yang merupakan laki-laki dewasa.

“Jadi informasi itu kita terima di bulan Agustus 2023. Maka kejadian dan peristiwa untuk merekam, menghubungi, berkomunikasi, dan mempergunakan anak sebagai objek dari kekerasan seksual itu terjadi sebelumnya,” imbuhnya.

Polisi meyakini jaringan lintas negara ini telah melancarkan aksinya jauh-jauh sebelum akhirnya kasus ini terungkap. “Dan kita yakini proses itu sudah lama terjadi, tetapi terungkapnya mulai dari 2023,” imbuhnya.

Brikut fakta-fakta kasus konten porno anak lintas negara yang dirangkum, Minggu (25/2/2024).

1. Ada 4.000 Lebih Konten Porno Anak
Kelima tersangka ditangkap polisi masing-masing berinisial HS, MA, AH, KR dan NZ. Dari penangkapan para tersangka ini, polisi menemukan adanya ribuan konten porno anak yang diperjualbelikan oleh tersangka.

“Ada kurang lebih seribu gambar dan kurang lebih empat ribu video yang tentu sudah diproduksi, dihasilkan,” kata Ronald.

Secara rinci, Kasat Reskrim Polresta Tangerang Kota menyebutkan jumlah konten porno yang diproduksi oleh tersanga. Konten ini meliputi foto dan video porno anak-anak.

“Kita rinci di sini ada 1.245 image foto dan 3.870 video,” kata Reza.

Polresta Bandara Soekarno-Hatta dibatu Subdit Siber Ditreskrimsus Polda Metro Jaya melakukan analisis terhadap data storage pada perangkat milik tersangka. Dari perangkat keras (hardisk) milik tersangka ditemukan ribuan konten kekerasan seksual terhadap anak.

“Pada (tersangka) saat diamankan, kami mendapatkan informasi juga sama ditemukan hardisk yang isinya ribuan child sexual abuse material,” ucap Reza.

2. Sindikasi Jaringan Lintas Negara
Ronald mengungkapkan lima tersangka ini tersindikasi dengan jaringan lintas negara. Tiga orang lainnya ditangkap oleh otoritas Amerika Serikat (AS). “Dari gugus tugas yang dibawahi oleh FBI, diamankan 3 orang warga negara Amerika di salah satu negara bagian,” katanya.

Secara terpisah, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta mengungkapkan dari tiga tersangka yang ditangkap FBI, dua ditangkap di Mississippi dan satu lainnya di California.

“Jadi, mereka ini kalau ada pesanan konten porno anak dari luar negeri, mereka bikin juga untuk kemudian dijual ke jaringan internasional. Tiga orang ini ditangkap FBI di Mississippi dan California,” tuturnya.

3. Dijual hingga USD 100 ke Lintas Negara
Kompol Reza mengungkapkan foto dan video porno anak-anak ini kemudian dijual hingga USD 100 ke lintas negara. Sedangkan konten porno anak yang dijual di wilayah RI dibbayak hingga Rp 300.000.

“Pelaku menjualnya dengan range harga USD 50-100 untuk satu video dengan durasi 1-2 menit. Untuk pelaku yang lainnya yang berdomisili di wilayah NKRI dijual dengan harga Rp 100-300 ribu,” kata Reza.

4. Raup Keuntungan hingga Ratusan Juta
Polisi meyakini kegiatan jual-beli konten porno anak ini telah berlangsung sejak lama. Para tersangka mendapatkan keuntungan hingga ratusan juta rupiah atas penjualan konten porno tersebut. “Terus dalam produksinya berapa keuntungan yang diperoleh? Tadi disebutkan ratusan juta rupiah,” jelas Reza.

5. Incar Anak-anak Melalui Online Game
Polisi mengungkap fakta lain terkait jaringan lintas negara ini. Para tersangka mengincar korban melalui game online.

“Dalam prosesnya pelaku mencoba untuk mengajak korban untuk ‘mabar’, main bareng. Kemudian mereka main bareng, mulai sering berinteraksi melalui kolom chat, setelah sering bermain bersama, pelaku mulai memberikan gift, memberikan chip, memberikan skin kepada anak korban,” papar Reza.

6. Modus Operandi
Kasat Reskrim Polresta Bandara Soekarno-Hatta Kompol Reza Fahlevi menyebut delapan orang anak di bawah umur menjadi korban konten porno. Para korban semuanya laki-laki dengan usia 12-16 tahun.

“Dari anak yang satu, kemudian pelaku coba untuk ke anak yang lain, coba lagi ke anak yang lain, coba lagi, coba lagi. Hingga akhirnya dalam pendalaman tim penyidik diketahui sebanyak delapan orang anak yang sudah pernah menjadi korban kejahatan seksual oleh pelaku,” ungkap Reza.

7. Ancaman Hukuman ke Pelaku Porno
Polisi menetapkan lima orang tersangka kasus konten porno anak di bawah umur. Atas perbuatan bejatnya itu, kelima tersangka itu terancam hukuman 15 tahun penjara.

“Diduga (melakukan) tindak pidana perdagangan orang dan/atau tindak pidana pornografi dan/atau tindak pidana dapat diaksesnya informasi elektronik dan/atau dokumen yang memiliki muatan keasusilaan dan/atau tindak pidana kekerasan seksual dan/atau tindak pidana perlindungan anak dengan ancaman hukuman pidana penjara minimal 5 (lima) tahun dan paling lama 15 (lima belas) tahun,” ujar Wakapolresta Bandara Soekarno Hatta, AKBP Ronald Fredi Christian Sipayung, dalam jumpa pers di kantornya, Tangerang, Sabtu (24/2/2024).

Sementara itu, Kasat Reskrim Polresta Bandara Soetta, Kompol Reza Pahlevi menjelaskan kelima tersangka ini dijerat dengan pasal berlapis.

“Untuk para tersangka ini kami kenakan sangkaan pasal berlapis, tadi sudah disebutkan kita kenakan pidana ITE ya mentransmisikan hal-hal yang bermuatan kesusilaan, kita pidanakan juga dengan Undang-undang Pornografi,” kata Reza.

Para tersangka juga dijerat dengan Undang-undang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), UU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS), hingga UU Perlindungan Anak. Berikut ini pasal-pasal yang disangkakan terhadap para pelaku:

1. Pasal 82 Ayat (1) Jo Pasal 76E Undang-undang RI Nomor 17 Tahun 2016 tentang penetapan peraturan pemerintah pengganti Undang-undang nomor 1 Tahun 2016 tentang perubahan kedua atas Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak menjadi Undang-undang juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP atau Pasal 45 ayat (1) juncto Pasal 27 ayat (1) Jo Pasal 52 ayat (1)

2. Undang-undang RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP atau Pasal 2 Ayat (1)

3. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 21 Tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang juncto Pasal 65 ayat (1) KUHP juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP dan/atau Pasal 29 Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi juncto Pasal 4 Ayat (1) dan (2) Undang-undang Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi juncto Pasal 65 ayat (1).

(Red)

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments