Thursday, May 23, 2024
HomeBerita Nasional7 Penjelasan SMK Lingga Kencana Usai Kecelakaan Maut Bus Subang

7 Penjelasan SMK Lingga Kencana Usai Kecelakaan Maut Bus Subang

Media Indo Pos,Jakarta – Bus rombongan pelajar dan guru SMK Lingga Kencana Depok mengalami kecelakaan di Ciater, Subang, Jawa Barat, hingga menyebabkan 11 orang tewas. Pihak yayasan pun menyampaikan beberapa penjelasan terkait insiden maut ini.

Sebagaimana diketahui, kecelakaan tersebut terjadi pada Sabtu (11/5), sekitar pukul 18.45 WIB. Kecelakaan itu terjadi di Ciater, Subang, saat rombongan pelajar dan guru SMK Lingga Kencana hendak kembali ke Depok seusai acara perpisahan. Total, ada tiga bus yang mengangkut siswa dan guru.

Peristiwa itu melibatkan lima kendaraan, yaitu bus Trans Putera Fajar bernomor polisi AD-7524-OG, mobil Daihatsu Feroza D-1455-VCD, serta 3 motor. Sebanyak 11 orang menjadi korban jiwa dalam insiden ini.

“Iya jadi informasinya sembilan pelajar, satu guru, terus satu lagi pengendara motor asal Cibogo, Subang,” ujar Kadinkes Subang dr Maxi, dilansir dari detikJabar, Minggu (12/5).

Berikut ini daftar nama 11 korban tewas bus terguling di Subang berdasarkan data yang disampaikan pihak RSUD Subang pada Minggu (12/5):

1. Intan Rahmawati
2. Dimas Aditya
3. Desy Yulyanti
4. Ahmad Fauzi
5. Intan Fauziah
6. Nabila Ayu Lestari
7. Raka
8. Robiatul Adawiyah
9. Tyara
10. Mahesya Putra
11. Suprayogi.

Yayasan Kesejahteraan Sosial (YKS) yang menaungi SMK Lingga Kencana Depok pun menyampaikan sejumlah penjelasan terkait insiden ini. Apa saja penjelasannya?

1. Siswa Keluhkan Kondisi Bus
YKS menyampaikan perihal keluhan siswa terkait bus. Pembina YKS, Mawardhi, mengatakan dia mendengar keluhan soal bus itu dari siswa yang merupakan teman cucunya. Dia mengatakan siswa itu mengeluhkan kondisi bus, termasuk AC yang tidak menyala dan ban sudah tidak bagus.

“Kebetulan ada cucu saya, dia sahabat dari peserta yang perpisahan itu. Dia melihat, ‘Aduh saya dapat mobil yang sedikit beda’, ternyata terjadi hal itu. Ya katanya kelihatannya ban sudah kurang bagus, AC-nya nggak jalan juga,” ujar Mawardhi di SMK Lingga Kencana, Minggu (12/5/2024).

Mawardhi juga mengaku sempat mendengar bus itu mogok di tengah perjalanan. Dia mengatakan bus itu kemudian diperbaiki dan melanjutkan perjalanan lagi.

“Sebelum kejadian itu, sempat mogok. Kemudian, diperbaiki teknisinya dan jalan lagi sehingga mobil yang bertiga itu, mereka yang terakhir,” katanya.

2. Lampu Bus Kurang Terang
Mawardhi juga mengatakan ada cerita siswa yang makan sambil gelap-gelapan di dalam bus. Dia mengatakan mengatakan keluhan itu menunjukkan kondisi bus yang tidak bagus.

“(Lampu mati) Infonya seperti itu, saya juga tidak jelas. Apakah berhenti di tempat makan atau tidak, info itu dia sampaikan kepada keluarga bahwa saat ini sedang dalam perjalanan pulang. Tetapi sebelum kejadian itu dia sempat makan, memang lampunya itu kurang terang, gelap, lampu di mobil. Mungkin dia itu makan di mobil. Jadi kurang bagus berarti,” ucapnya.

3. Yayasan Sediakan Tanah Makam
Dari 11 korban meninggal, ada siswa dan guru SMK Lingga Kencana. Pihak yayasan telah menyiapkan tanah wakaf untuk pemakaman korban.

“Kalau pemakaman, untuk mereka yang memang beralamatkan di kampung Parung Bingung ini mereka sudah disiapkan pemakamannya di Darul Maqobir, ada yayasan untuk pemakaman khusus umat Islam,” katanya.

Mawardhi menyebutkan ada korban lain yang berada di alamat berbeda akan berkoordinasi langsung dengan yayasan. “Dan yang lain tiga orang di luar itu masing-masing di wilayahnya, tapi dari yayasan mengoordinasikan dengan keluarga,” lanjut dia.

4. Tangani Korban Meninggal Hingga Luka
Mawardhi melanjutkan, pihaknya telah melakukan langkah pelayanan terhadap korban selamat, luka-luka, maupun meninggal dunia. Dia masih menunggu korban meninggal dibawa ke rumah duka masing-masing untuk segera dimakamkan.

“Alhamdulillah sekarang sudah terselesaikan. Sekarang yang terakhir itu adalah korban yang meninggal itu sudah diberangkatkan dan diurus dari rumah sakit Subang dalam perjalanan menuju rumah duka masing-masing. Karena kenapa bisa langsung ke rumah duka? Karena perwakilan masing-masing yang meninggal itu sudah datang ke tempat lokasi sehingga nanti setiap satu mobil ambulans di sana ada satu jenazah dan juga keluarganya,” jelas Mawardhi.

5. Outing Kegiatan Tahunan
Pihak yayasan juga menyampaikan penjelasan soal kegiatan outing ini. Kegiatan perpisahan ke luar kota itu juga merupakan kesepakatan antara guru dengan orang tua murid.

“Kegiatan tahunan sekolah. itu sudah melalui kesepakatan antara siswa dan guru,” ujar Bagian Informasi Yayasan Kesejahteraan Sosial, Dian Nurfarida dalam konferensi pers di SMK Lingga Kencana, Depok, Minggu (12/5).

6. Kesepakatan Ortu Siswa
Dian mengatakan pihaknya memilih mengunjungi Bandung sebagai lokasi kunjungan karena merupakan sebuah kesepakatan. Sekitar satu bulan sebelum berangkat, pihak sekolah dengan orang tua murid melakukan rapat bersama.

“Kenapa pilih ke Bandung karena tempat itu sudah disepakati sebelumnya. antara wali murid dan orang tua. Kami sudah rapat beberapa kali untuk menentukan tempat. jadi tempat itu tidak sekonyong-konyong atau tiba-tiba ditentukan,” tuturnya.

“Begitu kenaikan kelas, sebulan sebelumnya dilakukan rapat,” tambahnya.

7. Yayasan Bakal Panggil Pihak Sekolah
Pihak yayasan juga akan memanggil pihak sekolah terkait kecelakaan bus maut di Subang. Hal itu agar pihak sekolah dapat memberikan keterangan sejelas mungkin terkait kejadian tersebut.

“Dalam hal ini yayasan meminta pihak panitia, dalam hal ini pimpinan lembaga pendidikan Lingga Kencana untuk memberikan keterangan yang sejelas-jelasnya kepada kita pihak yayasan,” ujar Sekretaris Yayasan Kesejahteraan Sosial (YKS) Deddy Ahmad Mustofa.

Selain itu, Deddy mengatakan akan berkomunikasi juga dengan PO bus kecelakaan. Hal itu juga untuk mendalami apa yang sebenarnya terjadi. “Harus, harus (komunikasi dengan pihak PO bus). Nanti hasilnya seperti apa ini harus digelar sejelas-jelasnya. Sebab ini terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan. Kepercayaan masyarakat juga kepada panitia,” ungkapnya.

Deddy menyebut sejauh ini murid dan guru yang selamat masih dalam keadaan trauma. Sehingga para korban selamat belum bisa dimintai keterangan oleh pihak yayasan.

“Anak-anak yang sudah pulang pun kayaknya juga masih ada trauma, guru-guru yang ikut di mobil tersebut pun datang ke ruangan kita, tidak cerita tapi keluar air mata,” sebutnya.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments