Monday, June 17, 2024
HomeHukum & KriminalJaksa: Achsanul Qosasi Tak Ada Itikad Baik Balikin Rp 40 Miliar Terkait...

Jaksa: Achsanul Qosasi Tak Ada Itikad Baik Balikin Rp 40 Miliar Terkait BTS

Media Indo Pos,Jakarta – Jaksa penuntut umum (JPU) mengatakan pleidoi mantan anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi dan tim kuasa hukumnya dalam kasus penerimaan USD 2,64 juta atau Rp 40 miliar terkait proyek BTS 4G tak sejalan. Jaksa mengatakan Achsanul mengakui perbuatannya sementara tim pengacaranya justru memohon agar Achsanul dinyatakan tak bersalah.

“Bahwa antara terdakwa dan penasehat hukum terdakwa tidak sejalan dalam menentukan arah pembelaan terhadap diri terdakwa, di mana di satu sisi penasehat hukum dalam pembelaan terhadap terdakwa memohon agar terdakwa dinyatakan tidak bersalah dan dibebaskan dari segala tuntutan hukum,” kata jaksa saat membacakan replik dalam persidangan di PN Tipikor Jakarta, Selasa (4/6/2024).

“Akan tetapi di sisi lain terdakwa justru mengakui telah menerima uang dari Anang Achmad Latif secara tidak sah dan menyatakan penyesalan yang mendalam atas keterlibatan terdakwa dalam tindak pidana yang didakwakan oleh penuntut umum terhadap dirinya,” imbuh jaksa.

Jaksa mengatakan Achsanul juga tak punya itikad baik untuk mengembalikan uang Rp 40 miliar yang diterimanya dari eks Dirut Bakti Kominfo Anang Achmad Latif. Jaksa menilai mestinya usai menerima uang gratifikasi terdakwa membuat laporan.

“Bahwa penasehat hukum terdakwa dalam pembelaannya telah mendalilkan bahwa selain uang tersebut tidak digunakan, juga terdapat pengembalian oleh Terdakwa Achsanul Qosasi atas uang yang diterima dari saksi Anang Achmad Latif sebesar USD 2,64 juta atau setara dengan Rp 40 miliar tanpa berkurang sedikit pun,” kata jaksa.

“Atas dalil yang dikemukakan oleh penasehat hukum terdakwa tersebut, perlu kami tegaskan bahwa pengembalian uang tersebut tidak dapat menghapus pidana terhadap diri terdakwa, karena sejak awal tidak ada itikad baik dari terdakwa untuk mengembalikan uang tersebut atau melaporkannya kepada pihak KPK,” katanya.

Menurut jaksa, usai menerima uang tersebut, terdakwa justru menyewa sebuah rumah di kawasan Kemang, Jakarta Selatan, untuk menyimpan uang tersebut.

“Melainkan justru terdakwa menyimpan uang tersebut pada sebuah rumah yang terletak di daerah Kemang yang sebelumnya telah terdakwa sewa atau terdakwa persiapkan untuk menyimpan uang tersebut,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Achsanul Qosasi akan mengajukan duplik atau tanggapan tertulis atas replik jaksa. Sementara itu, perantara sekaligus orang kepercayaan Achsanul yang menerima uang Rp 40 miliar terkait BTS itu yakni terdakwa Sadikin Rusli tak mengajukan duplik.

“Sekarang penasehat hukum Pak Achsanul Qosasi, apakah kesempatan terakhir ini akan saudara gunakan untuk mengajukan sanggahan atau tanggapan lagi secara tertulis?” tanya ketua majelis hakim Fahzal Hendri.

“Iya, baik Yang Mulia. Karena penuntut umum juga tertulis Yang Mulia kemarin, kami akan mengajukan tanggapan atas replik ini juga tertulis,” jawab pengacara Achsanul Qosasi.

“Penasehat hukumnya Sadikin Rusli gimana?” tanya hakim Fahzal.

“Izin majelis kami tetep pada pleidoi, kami tidak mengajukan tanggapan, kami tetap pada pleidoi,” jawab pengacara Sadikin Rusli.

Hakim memberikan kesempatan untuk Achsanul Qosasi membacakan tanggapan tertulis atau duplik atas replik jaksa tersebut. Sidang akan dilanjutkan pada Selasa (11/6) depan dengan agenda duplik.

“Sidang kita tunda Minggu depan, hari yang sama, hari Selasa tanggal 11 Juni 2024,” kata hakim.

Achsanul Dituntut 5 Tahun Penjara
Sebelumnya, Mantan anggota III Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) Achsanul Qosasi dituntut 5 tahun penjara. Jaksa meyakini Achsanul terbukti menerima uang senilai USD 2,64 juta atau sebesar Rp 40 miliar terkait kasus korupsi proyek BTS 4G pada Bakti Kominfo.

“Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa Achsanul Qosasi berupa pidana penjara selama 5 tahun dikurangkan sepenuhnya dengan masa penahanan yang telah dijalankan oleh Terdakwa dengan perintah supaya terdakwa tetap ditahan di rutan,” kata jaksa saat membacakan surat tuntutan di PN Tipikor Jakarta, Selasa (21/5/2024).

Jaksa juga menuntut Achsanul membayar denda Rp 500 juta. Apabila denda tak dibayar, diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan.

“Menghukum Terdakwa Achsanul Qosasi membayar denda sebesar Rp 500 juta dengan ketentuan, apabila denda tersebut tidak dibayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 6 bulan,” ujar jaksa.

Hal memberatkan tuntutan adalah perbuatan Achsanul tidak mendukung program pemerintah dalam rangka penyelenggaraan negara yang bersih dan bebas dari korupsi, kolusi, dan nepotisme. Kemudian perbuatan Achsanul telah mengakibatkan menurunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tinggi negara.

Sementara itu, hal meringankan tuntutan adalah Achsanul bersikap sopan selama persidangan, mengakui terus terang perbuatan yang telah didakwakan oleh penuntut umum terhadapnya. Lalu, Achsanul telah mengembalikan keseluruhan uang yang telah diterima secara tidak sah sejumlah USD 2,64 juta yang setara dengan Rp 40 miliar dan Achsanul belum pernah dihukum sebelumnya.

Jaksa juga membacakan tuntutan untuk perantara sekaligus orang kepercayaan Achsanul, yakni Sadikin Rusli. Jaksa menuntut Sadikin dengan pidana penjara selama 4 tahun dan denda Rp 200 juta subsider 3 bulan kurungan.

Jaksa menyakini Achsanul Qosasi melanggar Pasal 12 huruf e Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 sebagaimana dakwaan ke satu penuntut umum.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments