Wednesday, June 19, 2024
HomeBerita NasionalPolisi Selidiki Kasus Keracunan Massal di Kota Bogor, 3 Saksi Diperiksa

Polisi Selidiki Kasus Keracunan Massal di Kota Bogor, 3 Saksi Diperiksa

Media Indo Pos,Bogor – Kepolisian menindaklanjuti kasus keracunan massal tewaskan satu orang di Bogor Selatan, Kota Bogor. Tiga orang kini dimintai keterangannya sebagai saksi.

“Sampai saat ini kami masih meminta keterangan dari beberapa saksi. Sampai saat ini (saksi diperiksa) 3 orang,” kata Kapolsek Bogor Selatan Kompol Diana Sulistiowati, Selasa (4/6/2024).

Keracunan massal yang menewaskan satu orang berawal dari kegiatan haul di salah satu rumah warga pada Sabtu (1/6/2024) malam. Saat itu, warga mengonsumsi makanan yang diberikan penyelenggara haul hingga mengalami gejala keracunan.

“Jadi untuk penanganan kami dari kepolisian khususnya Bogor Selatan setelah kami terima laporan ada yang terindikasi dan diduga keracunan di Puskesmas Cipaku, jadi langsung kami langsung ke wilayah dan cek warga,” kata Diana.

“Kalau makanan yang dikomsumsi itu, jadi kebetulan ada kegiatan haul, rutin setiap tahun, kemudian mengundang warga sekitar. Itu kegiatannya seperti itu, kemudian mendapatkan berkat (nasi kotak,red),” imbuhnya.

Sampai saat ini total warga yang mengalami keracunan berdasarkan jumlah pasien yang datang ke Puskesmas Cipaku sebanyak 93 orang. Satu orang meninggal dunia dalam perawatan di rumah sakit usai mengalami gejala keracunan.

Status KLB
Diberitakan sebelumnya, Pemkot Bogor menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) terkait keracunan massal tewaskan satu orang di Bogor Selatan, Kota Bogor. Penanganan kejadian ini berpusat di Puskesmas Cipaku.

“Statusnya KLB,” kata Sekda Kota Bogor Syarifah Sofiah usai mengecek penanganan pasien korban keracunan di Puskesmas Cipaku, Selasa (4/6/2024).

Syarifah menyebut penanganan pasien korban keracunan massal harus dilakukan dengan cepat. Pemkot Bogor akan memastikan ketersediaan dokter, obat, hingga tempat tidur untuk pasien.

“Jadi kalau KLB harus intensif ya harus cepat. Jadi ambulans tidak boleh susah, petugas harus tersedia, bed harus ada, obat-obatan harus ada. Jadi ditangani bukan skala puskesmas lagi, tapi skala kota,” ucap Syarifah.

“Penanganannya kita sudah KLB. Karena ada riwayat yang sama, sumber yang sama, kriteria KLB,” sambungnya.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments