Saturday, July 13, 2024
HomeHukum & Kriminal4 Fakta Muslihat Tawaran Kerja Buat Pelamar Terjerat Pinjol

4 Fakta Muslihat Tawaran Kerja Buat Pelamar Terjerat Pinjol

Media Indo Pos,Jakarta – Kasus puluhan pelamar kerja di Cililitan, Jakarta Timur, menjadi korban penjualan data untuk pinjaman online (pinjol) masih diusut polisi. Kini mulai terungkap sejumlah muslihat tawaran kerja buat pelamar hingga terjerat pinjol dengan total kerugian yang dialami 27 korban senilai Rp 1 miliar.

Kasus dugaan penjualan data untuk pinjaman online ini mencuat usai muncul keterangan dari salah satu korban bernama Muhammad Lutfi (31). Lutfi bersama para korban lain juga telah mendatangi Mapolres Jakarta Timur untuk diminta keterangan sebagai saksi korban.

1. Korban Dijanjikan Kerja
Berdasarkan keterangan Lutfi, puluhan pelamar kerja itu awalnya sejak Mei 2024 dijanjikan pekerjaan dengan syarat menyerahkan KTP dan ponsel bersamaan dengan surat lamaran kepada R (terlapor), selaku karyawan toko ponsel Wahana Store PCG, Kramat Jati.

Namun data para pelamar kerja itu diduga dicuri oleh R untuk mengajukan pinjol. Bahkan total kerugian yang dialami 27 korban mencapai lebih dari Rp 1 miliar.

“Awalnya R (terlapor) menawarkan pekerjaan sebagai admin konter ponsel. Selanjutnya para korban menyerahkan beberapa persyaratan seperti KTP berikut foto diri,” kata Lutfi di Mapolres Metro Jakarta Timur dilansir Antara, Jumat (5/7).

2. Instal Aplikasi di Ponsel
Kemudian, tanpa seizin dan sepengetahuan korban, ternyata terlapor R telah menginstal aplikasi tertentu di ponsel milik para korban. Setelah itu, muncul transaksi di mana korban sebenarnya tidak pernah melakukan.

“Tiba-tiba ada transaksi tagihan pinjaman dan kredit ‘online’, yakni seperti ShopeePay Later, Adakami, Home Kredit, Kredivo, Akulaku, dan lainnya. Sedangkan kami para korban tidak pernah mengajukan transaksi tersebut,” ucapnya.

Akibat kejadian tersebut, para korban dirugikan dengan total keseluruhan tagihan sebesar Rp 1,1 miliar.

“Kami kemudian melaporkan kejadian ini ke Polres Metro Jakarta Timur. Kami juga menyerahkan kasus ini kepada kuasa hukum kami,” ujar Lutfi.

3. Korban Diminta Selfie Bareng KTP
Sementara itu, Kapolres Metro Jakarta Timur Kombes Nicolas Ary Lilipaly mengatakan terlapor berinisial R berpura-pura menjadi penyalur tenaga kerja di sebuah konter HP di Cililitan, Jaktim. Dia meminta para pelamar memberikan KTP hingga foto selfie.

“Si terlapor dalam hal ini Saudara R melakukan modus operandi berupa dia berlagak seperti penyalur tenaga kerja di konter HP. Dengan demikian dia mencari mangsa dengan catatan bahwa mangsa atau korban ini dapat memberikan identitas aslinya, berupa KTP dan membuat foto selfie dirinya,” ujar Nico, kepada wartawan, Senin (8/7).

Polisi saat ini telah memeriksa enam saksi yang juga korban dalam kasus ini. Selanjutnya polisi akan meminta keterangan terlapor berinisial R.

“Selanjutnya kami akan memeriksa terlapor dalam hal ini satu orang berinisial R tadi untuk diambil keterangannya sebagai saksi,” imbuhnya.

Kepada polisi, para korban menjelaskan mulanya diiming-imingi pekerjaan oleh terlapor. Namun saat itu korban diminta KTP hingga foto selfie bersama kartu identitasnya.

“Jadi dengan modus tersebut dia mendapatkan korban kurang lebih ada 26 orang dan jumlah kerugian Rp 1 miliar lebih. Untuk sampai saat ini pemeriksaan kami terhadap para saksi yang ada, bahwa terlapor R ini melakukan seorang diri,” jelasnya.

4. Janjikan Korban Kerja Jadi Admin
Hal lain yang terungkap dalam kasus ini adalah korban dijanjikan bekerja jadi admin oleh terlapor. Selain itu, korban juga diiming-imingi undian berhadiah oleh terlapor.

“Terlapor ini menawarkan kepada para korban pekerjaan admin counter handphone, dan juga menawarkan undian berhadiah kepada para korban,” kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Ade Ary Syam Indradi kepada wartawan, Selasa (9/7/2024).

Ade tidak menjelaskan lebih jauh terkait undian berhadiah tersebut. Namun saat itu korban diminta menyerahkan beberapa persyaratan, termasuk foto selfie-nya, sembari memegang KTP. Rupanya hal tersebut lah yang diduga digunakan terlapor untuk syarat pinjaman online (pinjol).

“Setelah data diterima oleh terlapor, data para korban diterima oleh terlapor, kemudian tanpa seizin para korban, maka data tersebut digunakan atau disalahgunakan oleh terlapor untuk melakukan pinjaman-pinjaman online, dengan cara menginstal di aplikasi handphone milik para korban. Jadi seolah-olah korban itu melakukan pinjaman,” ujarnya.

Saat ini sejumlah korban sudah diperiksa terkait kasus yang ada. Polisi juga akan memeriksa wanita R sebagai terlapor di kasus tersebut.

“Nama terlapor sudah muncul saudari R, nanti akan dilakukan pendalaman juga alamatnya di mana dan nanti akan diklarifikasi juga dalam rangka penyelidikan,” jelasnya.(Red)

Oh hi there 👋
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments