Thursday, May 23, 2024
HomeBerita Nasional5 Fakta Siswa Diduga Dianiaya Kepala Sekolah Hingga Tewas

5 Fakta Siswa Diduga Dianiaya Kepala Sekolah Hingga Tewas

Media Indo Pos,Jakarta – Seorang siswa SMK di Nias Selatan (Nisel) diduga dianiaya kepala sekolahnya hingga meninggal dunia. Orang tua korban telah melaporkan dugaan penganiayaan ini ke Polres Nias Selatan. Belum ada tersangka dalam kasus tersebut. Berikut informasi selengkapnya.

1. Kronologi Siswa Diduga Dianiaya Kepala Sekolah
Yaredi Nduru (17), seorang siswa SMK di Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara, tewas setelah diduga dianiaya kepala sekolahnya, SZ (37). Dilansir dari detikSumut, berikut kronologi peristiwanya.

– 23 Maret 2024
Kasi Humas Polres Nisel Bripka Octo Dian Tobing mengatakan peristiwa itu terjadi di salah satu SMK di Desa Hilisaooto, Kecamatan Siduaori. Awalnya, pada 23 Maret 2024 pagi, korban bersama enam siswa lainnya dibariskan oleh SZ.

“Korban dipukul di bagian kening korban sebanyak lima kali,” kata Bripka Dian, Rabu (17/4/2024).

Lalu, sekitar pukul 18.00 WIB, korban mengeluh sakit kepala kepada ibunya. Saat itu, ibu korban langsung memberikan obat sakit kepala.

– 27 Maret 2024
Korban mengeluh sakit kepalanya semakin parah. Saat itu, korban mengaku tidak sanggup pergi ke sekolah.

– 29 Maret 2024
Korban demam tinggi sambil mengigau dan mengatakan SZ telah memukulnya hingga membuatnya sakit. Ibu korban jadi curiga dan mencari tahu penyebab anaknya mengeluh sakit.

“Akibat perkataan tersebut, ibu korban curiga dan mencari tahu apa penyebab dari penyakit korban tersebut,” ujar Dian.

Ibu korban pun menanyakan penyebab sakitnya korban kepada teman-teman korban. Saat itu, teman korban menceritakan bahwa korban telah dipukul oleh SZ saat tengah dibariskan.

– 9 April 2024
Korban dibawa keluarganya ke RSUD Thomsen Gunungsitoli untuk diperiksa.

– 10 April 2024
Keesokan harinya, keluarga menerima hasil pemeriksaan dokter. Disebutkan ada bekas pukulan di bagian kening korban dan salah satu sarafnya tidak berfungsi.

“10 April 2024 keluarga menerima hasil pemeriksaan dari RS Thomsen Gunungsitoli yang mana keterangan dokter bahwa ada bekas dari pukulan di bagian kening dan salah satu saraf tidak berfungsi di bagian kening korban, sehingga korban sakit parah,” kata Dian.

– 11 April 2024
Keluarga korban membuat laporan ke Polres Nisel pada 11 April 2024 soal dugaan penganiayaan SZ (37) kepada korban yang bernama Yaredi Nduru (17) hingga tewas.

– 13 April 2024
Korban kembali dibawa ke RSUD Thomsen Gunungsitoli untuk mendapatkan perawatan intensif.

– 15 April 2024
Pada 15 April sekira pukul 19.30 WIB, korban dilaporkan meninggal dunia di rumah sakit. Sebelum meninggal, korban sempat mengalami kritis.

“Pada 15 April sekira pukul 17.00 WIB, penyidik tiba di rumah sakit untuk melakukan wawancara terhadap korban serta melihat keadaan korban. Namun korban tidak dapat memberikan keterangan karena dalam keadaan kritis. Lalu, sekira pukul 19.30 WIB, korban meninggal dunia,” sebutnya.

Dian mengatakan pihaknya tengah menyelidiki kasus tersebut. Jenazah korban juga akan diautopsi dan telah mendapatkan persetujuan dari pihak keluarga.

“Kemarin sore jenazahnya dibawa dan disemayamkan sementara di RS Thomsen untuk selanjutnya dilakukan autopsi oleh tim kedokteran forensik dari Medan, paling lambat hari Kamis,” pungkasnya.

2. 7 Saksi Diperiksa
Polisi melakukan pemeriksaan terhadap tujuh orang terkait kasus dugaan penganiayaan siswa SMK oleh kepala sekolahnya. Mereka diperiksa sebagai saksi.

“Lebih dari tujuh (saksi),” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Hadi Wahyudi, Kamis (18/4/2024).

Hadi belum merinci siapa saja saksi-saksi yang diperiksa. Dia mengatakan proses penyelidikan masih terus dilakukan. “Masih dalam penyelidikan,” ujarnya.

3. SZ Akan Diperiksa Polisi
Polisi masih menyelidiki kasus tewasnya siswa SMK di Nias Selatan, Sumatera Utara, yang diduga dianiaya kepala sekolahnya. SZ (37). Terduga pelaku akan diperiksa.

“Kami sudah koordinasi, rencananya hari ini diperiksa,” kata Kasat Reskrim Polres Nisel AKP Freddy Siagian saat dimintai konfirmasi, Kamis (18/4/2024).

4. Belum Ada Tersangka
Kapolres Nias Selatan AKBP Boney Wahyu Wicaksono mengatakan kasus dugaan penganiayaan siswa SMK oleh kepala sekolahnya masih dalam proses penyelidikan. Belum ada penetapan tersangka dalam kasus tersebut.

“Saat ini proses hukumnya sedang berjalan,” kata Boney.

“Waduh, tidak boleh sampai sejauh itu. Karena itu sudah masuk ke ranah penyidikan kita. Nanti kalau saya kasih tahu, membuka informasi,” ujarnya.

Meski begitu, Boney menegaskan proses penyelidikan akan dijalankan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Mulai dari pemeriksaan saksi, olah TKP, serta lainnya.

“Belum (ada penetapan tersangka). Kan di tahap itu ada dari penerimaan laporan, kemudian melaksanakan penyidikan, pemeriksaan saksi-saksi, begitu,” tutupnya.

5. Klarifikasi Kepsek SZ
Yaredi Nduru (17), siswa SMK di Kabupaten Nias Selatan (Nisel), Sumatera Utara (Sumut), meninggal dunia diduga karena dianiaya kepala sekolahnya, SZ (37). SZ pun memberikan klarifikasi terkait peristiwa tersebut.

Kejadian itu berawal pada Jumat (15/3) pagi. Saat itu, dirinya dihubungi oleh Sekretaris Camat Siduaori Yasozisokhi Nduru karena ada permasalahan dengan siswa-siswi yang sedang praktek kerja industri (prakerin) di kantor camat itu, salah satunya korban.

“Saya dihubungi Pak Sekcam Siduaori menanyakan apakah siswa yang sedang prakerin itu bisa disuruh kerja atau tidak. Dengan dadakan saya jawab bisa Pak Sekcam, mohon dimaklumi siswa kita sedang prakerin. Lalu, jawaban Pak Sekcam, kalau tidak mau diarahkan, lebih baik dijemput siswa tersebut hari Senin, 18 Maret 2024,” demikian keterangan SZ.

Lalu, pada 16 Maret, SZ menyuruh salah seorang guru untuk mengumpulkan seluruh siswa prakerin dalam ruangan kelas XI. Setelah berkumpul, SZ pun masuk ke ruangan itu. Kemudian, SZ menanyakan apakah ada kendala selama melakukan prakerin. Saat itu, semua siswa menjawab tidak ada masalah. Pertanyaan itu berkali-kali ditanyakan oleh SZ, dan jawaban semua siswa tetap sama.

Setelah itu, SZ menanyakan secara khusus kepada siswa-siswi yang prakerin di kantor Camat Siduaori. Pada saat itu, siswa-siswi tersebut menjawab tidak ada masalah.

“Akhirnya saya suruh mereka untuk maju ke depan khusus laki-laki peserta prakerin yang ditempatkan di kantor camat. Setelah mereka maju ke depan sejumlah lima orang, kembali saya mempertanyakan apakah ada masalah, mereka menjawab tidak ada pak. Saya tanyakan lagi, baru mereka menjawab ada. Setelah mendengar jawaban dari mereka, saya mengepalkan tangan sambil mendorong kening mereka. Saya melontarkan pernyataan, tidak mungkin Bapak Sekcam Siduaori menghubungi saya kalau tidak ada permasalahan. Emang gila Pak Camat Siduaori marah-marah tanpa sebab?” tanya SZ.

Pertanyaan SZ dijawab oleh salah seorang siswa dengan mengatakan Camat Siduaori memang gila. Saat itu, siswa tersebut tertawa dan diikuti oleh siswa lainnya yang berada di ruangan itu.

SZ lalu mendorong kening para siswa itu sambil mengatakan ‘sudah salah malah ketawa’. Setelah itu, SZ menyuruh tiga siswi yang juga prakerin di kantor camat untuk maju. Saat itu, SZ menanyakan kesalahan yang dilakukan oleh para siswi itu. Ketiga siswi itu pun menyampaikan kesalahan yang mereka lakukan.

Kemudian, SZ memberikan imbauan kepada para siswa untuk bekerja dengan baik saat prakerin dan menjaga nama baik sekolah. Lalu, SZ meninggalkan ruangan itu karena ada acara.

Kemudian, pada 18 Maret 2024, siswa-siswi tersebut, termasuk korban, kembali prakerin di kantor camat. Pada saat itu, Sekcam sempat menanyakan kondisi kesehatan anak-anak tersebut.

Para siswa itu menyampaikan bahwa mereka dalam kondisi baik-baik saja. Begitupun keesokan harinya. Namun, pada 20-22 Maret, Yaredi tidak hadir ke kantor camat itu tanpa ada informasi yang jelas. Begitu juga pada tanggal 23 Maret, Yaredi tidak hadir ke sekolah.

Lalu, pada 24 Maret malam, Yaredi datang ke rumah temannya untuk bermain game mulai dari pukul 21.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB. Setelah itu, sekitar pukul 05.30 WIB, korban pergi menuju situs megalit Tetegewo dengan alasan ingin mengambil baju.

Pada siang harinya, teman korban menghubungi korban dan menanyakan kenapa tidak hadir prakerin. Saat itu, Yaredi mengatakan bahwa dirinya tengah meriang. Begitupun keesokan harinya, korban mengaku kepalanya pusing. Kemudian, sejak tanggal 27 Maret, tidak diketahui pasti kondisi dari Yaredi.

“Pada 31 Maret malam, pihak keluarga menghubungi salah satu guru menginformasikan bahwa Yaredi sakit karena dipukul kepala sekolah,” ujarnya.

Setelah itu, pada 1 April 2024, guru tersebut memberi tahu SZ soal kabar Yaredi. Pada sore harinya, guru dan sejumlah siswa menjenguk korban. Pada saat yang bersamaan, keluarga korban meminta pertanggungjawaban SZ.

SZ juga mengatakan pada 4 April 2024, keluarga korban datang ke sekolah untuk menyelesaikan permasalahan itu. Pada mediasi itu ada sejumlah pihak lainnya yang juga terlibat.

Saat mediasi, keluarga Yaredi sempat meminta uang sebesar Rp 25 juta untuk biaya pengobatan. Jika korban sembuh dan uang tersebut masih bersisa, sisanya akan dikembalikan kepada SZ. Saat itu, keluarga Yaredi mengatakan tidak ada uang Rp 25 juta, maka permasalahan itu akan terus bergulir.

“Pada mediasi itu, tidak ada titik kesepakatan, maka pemandu mediasi membubarkan. Pada Kamis 11 April, keluarga Yaredi melapor ke Polres Nias Selatan,” ujar SZ dalam keterangannya itu.(Red)

Oh hi there đź‘‹
It’s nice to meet you.

Sign up to receive awesome content in your inbox, every month.

We don’t spam! Read our privacy policy for more info.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular

Recent Comments